LOGIKA
ITU APA SIH.?
Jika
kita sudah clear tentang pemahaman logika ini kemungkinan besar kita akan
terhindar dari yang namanya Black argument dan berbicara
ngelantur tanpa arah yang jelas untuk disimpulkan yang keduanya ini merupakan
situasi yang tidak pasti atau bersifat ambiguitas (post truth) selain
itu tentunya kita tidak akan gagap dalam menghadapi hal-hal baru (konteks
argumentatif).
Melihat begitu
pentingnya logika bagi pertumbuhan kita sebagai manusia maka kita mesti cermat
dan tepat dalam mendefinisikan dan memaknai logika itu sendiri tentuntanya
sesuai dengan kaidah keilmuan. Ada beberapa penjelasan tentang logika dari
beberapa ahli:
Dalam buku Logika Kritis
Filsuf Klasik Aristoteles mengungkapkan logika adalah ajaran mengenai berpikir
secara ilmiah membahas wujud pikiran itu sendiri dan hukum yang mengendalikan
pikiran
Soekadijo berpendapat
bahwa logika adalah suatu teknik atau cara yang memang diciptakan atau dibuat
untuk meneliti ketepatan manusia dalam menalar.
Kattsoff memahami bahwa
logika adalah ilmu pengetahuan terkait penyimpulan yang sejajar atau lurus.
Logika menjabarkan mengenai aturan-aturan dan cara guna mencapai suatu
kesimpulan, setelah didahului oleh suatu perangkat bernama premis atau asumsi.
Kita sering terjebak
dalam pemahaman logika dalam definisi ilustratif pada masyarakat luas berpikir
logis itu merupakan pencarian fakta dan kebenaran, sehingga timbul penghakiman pada
masyarakat. Dalam mempelajari dan menggali pengetahuan tentang logika wajib hukumnya
disandingkan dengan ilmu filsafat sehingga akan terdapat kebijaksanaan dan
kearifan.
Kebenaran adalah persesuaian antara pengetahuan,
penalaran dan objek. Bisa juga
diartikan suatu pendapat atau perbuatan seseorang yang sesuai dengan (atau
tidak ditolak oleh) orang lain dan tidak merugikan diri sendiri. (sumber
wikipedia).
Fakta adalah segala hal yang bisa ditangkap oleh indra manusia
berupa data dari keadaan nyata yang telah terbukti kebenarannya. Catatan pengumpulan
berbagai fakta itu disebut data, fakta sering diyakini oleh khalayak sebagai
sebuah kebenaran. Fakta yang didefinisikan harus teruji secara ketat, dapat
diukur, bisa diamati, dan paling utama adalah dapat dibuktikan. Fakta dapat
berbentuk peristiwa atau informasi berdasarkan kenyataan yang dapat diuji melalui
verifiability serta didukung bukti, statistik, dan dokumentasi. Oleh karena
itu, fakta bisa diverifikasi dan disepakati oleh sebuah kumpulan orang.
Dengan
penjelasan di atas maka saya sepakat dengan Jacobus Ranjabar, S.H.M. dalam
bukunya Dasar-Dasar Logika tahun 2017 hal:4 dan 5,.
Menurut
dia logika didefinisikan sebagai ilmu pengetahuan dan kecakapan untuk berpikir
lurus(tepat). Dengan penekan dua hal pertama logika sebagai ilmu pengetahuan; kedua
sebagai kecakapan. Sebagai Ilmu Pengetahuan merupakan kumpulan pengetahuan yang
tersusun secara sistematis sehingga membentuk suatu kesatuan serta memberikan
penjelasan metode-metode dan prinsip-prinsip pemikiran yang tepat. Agar dapat
pemikiran yang tepat logika menyelidiki, merumuskan dan menerapkan hukum-hukum
pemikiran yang tepat itu. Jadi logika bukanlah teori belaka melainkan juga
kecakapan, sebagai kecakapan logika merupakan suatu keterampilan untuk
menerapkan hukum-hukum pemikiran yang tepat itu dalam praktik. Kecakapan itu tampak
secara nyata terutama kemampuan untuk membangun argumen-argumen sendiri secara
tepat dan mengevaluasi argumen-argumen orang lain. Secara sederhana logika
adalah ilmu pengetahuan dan kecakapan untuk berpikir lurus (tepat).
Jadi
logika bukan merupakan bahan mengadili atau menghakimi melainkan untuk
mengklarifikasi sekaligus mengkonfirmasi informasi yang tidak tepat (black argument).
Sangat
jelas bukan pentingnya belajar logika, karena merupakan dasar untuk kita dapat
menggali ilmu pengetahuan atau informasi lainnya. Karena tanpa didasari oleh
ilmu logika yang kuat kita akan kesusahan dalam menyerap ilmu pengetahuan dan informasi-informasi
tersebut sehingga akan menyulitkan kita keluar dari keadaan Post Truth dalam
kehidupan masyarakat.
Catatan
: Menurut Jacobus Ranjabar, S.H.M. dalam bukunya Dasar-Dasar Logika tahun 2017 hal:51,
menjelaskan, berpikir adalah berbicara dengan dirinya sendiri di dalam batin; mempertimbangkan,
merenungkan ,menganalisis, membuktikan sesuatu, menunjukan alasan-alasan, menarik
kesimpulan, meneliti jalan pikiran mengapa atau untuk apa sesuatu terjadi,
serta membahas suatu realitas.

Komentar
Posting Komentar